PRO KONTRA MAHASISWA SEBAGAI TONGGAK PEMERSATU BANGSA INDONESIA
PRO
KONTRA MAHASISWA SEBAGAI TONGGAK PEMERSATU BANGSA INDONESIA
Indonesia
terkenal sebagai salah satu Negara yang memiliki sumber daya manusia yang
sangat melimpah. Kekayaan sumber daya manusia yang terbentang dari sabang
sampai merauke, semestinya menjadi motor penggerak bagi kemajuan bangsa
Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia berada digenggaman tangan para aktivis
intelektual. Para aktivis intelektual merupakan produk – produk mahasiswa yang
berada di seluruh universitas dan perguruan tinggi di Indonesia. Sayangnya,
produk atau output mahasiswa yang
dihasilkan dari berbagai universitas dan perguruan tinggi yang berada di
Indonesia, sejauh ini tampaknya belum dioptimalkan dengan baik oleh pemerintah.
Karena ketersediaan sarana dan prasarana yang belum merata di seluruh bangsa
Indonesia. Inilah masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dewasa
ini.
Keterbatasan
sarana dan prasarana dalam kehidupan bermasyarakat khususnya bagi para aktivis
intelektual sangatlah riskan. Mengapa saya katakana riskan? Karena kemungkinan
95%, kaum aktivis intelektual akan hidup dalam ketidakpastian. Ketidakpastian
akan masa depan mereka. Fenomena atau kondisi ini akan dimanfaatkan oleh oknum
– oknum yang sudah lama haus akan kekuasaan. Di mana, mereka akan menampilkan
diri sebagai pahlawan. Pahlawan yang akan membawa para aktivis intelektual ini
kepada pintu atau jalur kesuksesan. Maka tidak dapat disangkal lagi bahwa, para
aktivis intelektual ini yang selalu diharapkan menjadi tonggak pemersatu bangsa
berbelot menjadi kelompok radikal yang selalu menggonggong kekuasaan
pemerintah. Akan tetapi, kita tidak dapat men-just mereka sebagai kelompok radikalisme bangsa. Mengapa? Karena
pada hakekatnya, akal budi mereka sangat bertentangan dengan nilai – nilai
kebenaran dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, ketidakpastian
akan masa depan merekalah yang terpaksa mendorong mereka untuk masuk ke dalam
catur permainan politik para penguasa. Seperti yang telah kita saksikan dalam
pemilihan anggota DPR, Bupati, Gubernur dan Presiden dewasa ini. Selain itu,
kita juga tidak dapat men-just pemerintah
pusat atas fenomena ini. Karena anggaran yang telah digelontarkan oleh
pemerintah pusat melalui APBN kepada daerah –daerah jumlahnya sangat besar.
Namun, dengan jumlah anggaran APBD yang sangat besar ini juga belum
dimanfaatkan dengan baik bagi kesejahteraan masyarakatnya. Lalu kemanakah
distribusi pemerintah daerah atas anggaran itu? Apakah distribusi separuhnya
hanyalah mentok di dalam kantung sendiri ataukah distribusi seluruhnya
diberikan kepada pembangunan daerah?
Situasi
atau fenomena ini memberikan keresahan bagi masyarakat. Di mana, masyarakat
melihat perang wacana yang terus – menerus dibalut dengan aneka retorika yang
indah oleh kaum intelektual. Ruang publik selalu dilihat sebagai panggung akbar
untuk menari –nari di atas penderitaan rakyat yang kian hari menikmati santapan
retorika dari kaum intelektual yang tak kunjung pasti dan benar. Kebenaran dan
kepastian akan eksistensi dari kaum intelektual inilah yang memberikan pro dan
kontra bagi masyarakat untuk menilai, apakah mahasiswa merupakan tonggak
pemersatu bangsa? Ataukah mahasiswa hanya sebagai tonggak kehancuran dan
perpecahan bangsa yang sangat majemuk ini? Pertanyaannya, di manakah letak
eksistensi kepahlawanan mahasiswa? Saya rasa letak eksistensi mahasiswa itu
terletak di dalam militansinya untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
Kebenaran
dan keadilan merupakan kunci dalam kehidupan berbangsa. Tanpa kebenaran dan
keadilan, mustahil suatu bangsa akan tetap eksis dalam perkembangan dunia yang
semakin cepat ini. Mahasiswa jangan hanya berdiam diri saja dalam menyaksikan
fenomena – fenomena yang belakangan ini terjadi dalam kehidupan bangsa
Indonesia. Mahasiswa harus memberikan ide, gagasan, opini yang selalu
menggerakkan jiwa masyarakat untuk bertindak dalam memperjuangkan makna
kemerdekaan yang sesungguhnya. Mahasiswa harus memberikan eksistensinya sebagai
makhluk yang mempunyai akal budi. Produk akal budi mahasiswa yang selalu
memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Janganlah menjadi mahasiswa yang berjiwa
oportunis. Akan tetapi, jadilah mahasiswa yang selalu berpegang teguh pada
prinsip kebenaran dan keadilan intelektual.
Comments
Post a Comment