ANAK RANTAU
Misteri ketakberhinggaan ada dalam diri seorang perantau. Aku tahu dan sadar akan eksistensiku sebagai seorang pengembara. Ribuan senja telah ku lalui. Antara samudera senja yang satu sangat berbeda. Tanah rantau telah membuka cakrawalaku untuk keluar dari zona nyamanku. Menjadi seorang perantau adalah bukan pilihanku. Akan tetapi, keadaan ekonomilah yang membawaku untuk berkelana ke negeri yang jauh. Budaya dan tradisi baru semakin bertautan erat dalam sendi - sendi pengembaraanku.
Hujan rindu jatuh di akhir bulan maret. Aku duduk tersungkur di bawah rembulan. Sembari aku meratapi nasibku sebagai anak rantau. Terkadang kebahagiaan datang menghujani armada jantungku. Terkadang pula, kebahagiaan pergi tak tahu rimbanya. Perpaduan budaya telah menghantar aku dalam melewati kecemasan dan kekhawatiran akan kehadiran virus corona.
Virus corona telah melemahkan sendi - sendi budaya manusia. Sebagai anak rantau, aku tak takut dengan kehadiran virus corona. Ketakutan terbesarku adalah kehilangan pekerjaan atas kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan akan kehadiran virus corona. Terkadang aku marah dan benci dengan jurnalis amatir yang menyebarkan berita - berita hoaks seputar virus corona.
Jurnalis amatir yang selalu memanfaatkan situasi dan kondisi psikologi masyarakat demi mendatangkan pundi - pundi rupiah atau pun dollar dalam rekening mereka. Akan tetapi, mereka tak tahu akibat yang terjadi dalam diri seorang perantau.
Ciptakanlah budaya yang bermanfaat bagi orang lain. Janganlah menyebarkan berita - berita hoaks yang menakutkan anak - anak perantau. Karena budaya anak rantau lebih bermartabat daripada budaya kamuflasi Anda dibalik tangan - tangan yang bermandikan ruangan ber-Ac.
Salam pencinta literasi
Comments
Post a Comment